Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Parigi MoutongPendidikanPotret

Erwin Burase: Guru Harus Adaptif Hadapi Narkoba dan Perkembangan AI

×

Erwin Burase: Guru Harus Adaptif Hadapi Narkoba dan Perkembangan AI

Sebarkan artikel ini
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase saat membuka Konferensi Kerja Kabupaten (Konkerkab) I PGRI Kabupaten Parigi Moutong masa bakti 2025–2030 di Hotel Ludya, Sabtu (5/9/2026).

KLIKPARIGI.ID Bupati Parigi Moutong Erwin Burase meminta para guru terus meningkatkan kemampuan dan beradaptasi menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), sekaligus memperkuat peran dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.

Menurut Erwin, perkembangan teknologi dan ancaman narkoba menjadi tantangan yang perlu direspons secara serius oleh dunia pendidikan. Guru dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan peserta didik di lingkungan sekolah.

Hal itu disampaikan Erwin saat membuka Konferensi Kerja Kabupaten (Konkerkab) I PGRI Kabupaten Parigi Moutong masa bakti 2025–2030 di Hotel Ludya, Sabtu (5/9/2026).

Erwin menekankan pentingnya kemampuan guru mengikuti perkembangan teknologi agar proses pendidikan tetap relevan dengan perubahan zaman. Menurutnya, peserta didik saat ini semakin dekat dengan berbagai perangkat dan platform digital.

“Guru-guru kita juga harus selalu berinteraksi dengan teknologi agar kita nanti tidak tertinggal dengan anak-anak kita,” katanya.

Ia mengatakan teknologi, termasuk berbagai platform berbasis AI, dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran. Namun, perkembangan tersebut juga membutuhkan pengawasan agar penggunaan gawai dan paparan konten digital tidak memberikan dampak negatif terhadap peserta didik.

Baca Juga:  Ekspor Perdana ke Tiongkok Sukses, Parigi Moutong Perkuat Standar Mutu Durian untuk Pasar Global

Di sisi lain, Erwin meminta PGRI Kabupaten Parigi Moutong tidak mengabaikan persoalan narkoba yang mengancam generasi muda.

Ia mendorong organisasi profesi guru tersebut merumuskan langkah dan strategi yang dapat diterapkan bersama pemerintah daerah untuk mencegah penyalahgunaan serta peredaran narkoba di lingkungan sekolah.

“Ini sangat penting. Coba dirumuskan poin-poin dan langkah penting yang disampaikan kepada kami pemerintah daerah untuk kita bicarakan bersama,” kata Erwin.

Menurut Erwin, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membangun karakter, mengawasi lingkungan pergaulan, dan memberikan perhatian terhadap kondisi peserta didik.

Ia menyinggung adanya informasi mengenai keterlibatan anak-anak sebagai kurir narkoba. Kondisi itu dinilai menjadi peringatan agar seluruh pihak memperkuat upaya pencegahan sejak dini.

“Ini tentu berbahaya, bisa mengganggu kualitas dan tentunya merusak generasi muda, khususnya kita di Parigi Moutong,” ujarnya.

Erwin menilai pencegahan narkoba tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Guru, orang tua, pemerintah, tokoh masyarakat dan unsur terkait lainnya perlu membangun kerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi pelajar.

Baca Juga:  Parigi Utara Expo 2025 Resmi Ditutup, Wagub Sulteng Dorong Pelestarian Budaya Lokal

Karena itu, PGRI didorong menjadi bagian penting dalam merumuskan strategi pencegahan narkoba, khususnya di lingkungan pendidikan.

Erwin juga menyampaikan perkembangan program digitalisasi pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong. Ia menyebut, pada awalnya daerah tersebut hanya memperoleh alokasi program untuk tujuh sekolah.

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong kemudian melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat agar jumlah sekolah penerima dukungan dapat ditambah. Hasilnya, jumlah sekolah yang mendapatkan dukungan digitalisasi meningkat hingga mencapai 97 sekolah.

“Kita akan terus perhatikan dan tingkatkan lagi sehingga pendidikan di Parigi Moutong ini benar-benar diperhatikan,” ujarnya.

Menurut Erwin, program digitalisasi tersebut penting untuk mendukung pemerataan pendidikan, mengingat wilayah Parigi Moutong cukup luas dan masih terdapat sekolah yang berada di daerah terpencil.

Selain fasilitas digital, perhatian pemerintah daerah juga diarahkan kepada guru yang bertugas di wilayah terpencil. Pemerintah menyiapkan dukungan berupa fasilitas tempat tinggal, sarana penunjang kedinasan hingga peningkatan insentif bagi guru yang mengabdi di daerah terpencil.

“Fasilitas guru kita di daerah terpencil tentu harus diperhatikan. Ini sudah beberapa kali saya bicarakan bersama para guru,” katanya.

Baca Juga:  Bappelitbangda: Kelengkapan Dokumen Jadi Penentu Dukungan Anggaran Pusat

Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu guru menjalankan tugas secara optimal sekaligus meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Parigi Moutong.

Dalam forum Konkerkab tersebut, Erwin menegaskan PGRI memiliki posisi strategis dalam membantu pemerintah menghadapi berbagai tantangan pendidikan. Organisasi tersebut diharapkan tidak hanya memperjuangkan kepentingan profesi guru, tetapi juga aktif memberikan masukan terhadap persoalan yang berdampak langsung pada peserta didik.

Ia mendorong PGRI membangun kolaborasi dan bertukar pengalaman dengan daerah lain, termasuk Pemerintah Kota Palu, terutama dalam menghadapi persoalan narkoba di lingkungan sekolah.

“Terutama masalah narkoba, ini semua sama. Tentu kita harus rumuskan bersama strategi-strategi di daerah lain dalam menekan angka peredaran narkoba, khususnya di sekolah-sekolah,” ujarnya.

Menurut Erwin, guru yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus peka terhadap persoalan sosial di lingkungan peserta didik menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas generasi muda.

Konkerkab I PGRI Kabupaten Parigi Moutong masa bakti 2025–2030 diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat peran guru, meningkatkan kualitas pendidikan, serta melindungi pelajar dari ancaman narkoba dan dampak negatif perkembangan teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *