Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Kuliah Umum di STPN, Nusron Tekankan Pentingnya Kebebasan Bertukar Gagasan

×

Kuliah Umum di STPN, Nusron Tekankan Pentingnya Kebebasan Bertukar Gagasan

Sebarkan artikel ini
FOTO: Istimewa

KLIKPARIGI.ID – Lingkungan pendidikan tinggi dinilai harus menjadi tempat yang terbuka bagi beragam gagasan, termasuk pandangan yang berbeda terhadap kebijakan pemerintah. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mendorong Politeknik Agraria STPN untuk terus menjaga budaya akademik yang memberi ruang bagi mahasiswa menguji, mempertanyakan, sekaligus memperkaya pemikiran melalui dialog terbuka.

Pesan tersebut disampaikan Nusron saat menghadiri Kuliah Umum bertajuk “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (04/09/2026). Kuliah umum itu turut menghadirkan pengamat dan akademisi Rocky Gerung sebagai narasumber.

Menurut Nusron, status STPN sebagai institusi pendidikan yang memiliki karakter semi-kedinasan tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi ruang pertukaran gagasan. Ia justru meminta kampus menghadirkan pembicara dengan beragam latar belakang, termasuk mereka yang memiliki pandangan kritis terhadap negara maupun kebijakan pemerintah.

“Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan untuk mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya itu kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Nusron.

Baca Juga:  Layanan Pertanahan Tetap Berjalan, Kantah Indramayu Layani Pemudik di Masa Lebaran

Ia menjelaskan, perbedaan perspektif bukan sesuatu yang harus dihindari dalam lingkungan akademik. Sebaliknya, gagasan yang beragam dapat memperluas wawasan apabila setiap pihak memiliki kesempatan untuk menyampaikan pandangannya dan saling bertukar pemikiran.

Untuk menggambarkan manfaat pertukaran gagasan tersebut, Nusron menggunakan analogi sederhana mengenai pertukaran buah apel yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw.

“Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, Rocky memberikan apelnya kepada saya, saya memberikan apel saya kepada Rocky, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel,” jelasnya.

Namun, kondisi berbeda terjadi ketika yang dipertukarkan bukan benda, melainkan pemikiran. Menurut Nusron, setiap orang akan memperoleh tambahan sudut pandang setelah mendengar dan memahami gagasan orang lain.

“Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” tuturnya.

Baca Juga:  Optimalisasi Data Pertanahan dan Pajak, Strategi Baru Dongkrak PAD

Karena itu, ia berharap kegiatan akademik seperti kuliah umum dapat terus dikembangkan di STPN sebagai sarana mempertemukan berbagai perspektif. Menurutnya, semakin banyak pandangan yang didengar, semakin luas pula cara seseorang memahami sebuah persoalan.

“Sharing pendapat itu akan menjadikan kita mempunyai kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” kata Nusron.

Sementara itu, Rocky Gerung menilai perdebatan merupakan bagian penting dalam proses membangun dan menguji sebuah pemikiran. Ia membedakan antara sesuatu yang bersifat keyakinan dengan gagasan yang harus terus diuji melalui diskusi dan kritik.

“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujar Rocky.

Dalam pemaparannya di hadapan para Taruna dan Taruni Politeknik Agraria STPN, Rocky juga menggunakan pendekatan filosofis untuk mengajak peserta menelusuri akar dari berbagai konsep yang berkaitan dengan tanah, negara, dan masyarakat.

“Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” pungkasnya.

Baca Juga:  Pelayanan Pertanahan di MPP Terus Ditingkatkan, ATR/BPN Dorong Optimalisasi

Rocky kemudian menguraikan tiga cara pandang terhadap tanah. Bagi masyarakat adat, tanah tidak semata-mata dipandang sebagai benda, tetapi memiliki keterkaitan dengan kehidupan, sejarah, serta warisan leluhur. Dalam perspektif negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui aturan dan hukum. Sementara dari sisi korporasi, tanah dapat dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi dan bisnis.

Kegiatan tersebut diikuti sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, para Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 Taruna dan Taruni Politeknik Agraria STPN.

Melalui forum tersebut, STPN diharapkan tidak hanya menjadi tempat pembentukan kompetensi teknis di bidang agraria dan pertanahan, tetapi juga menjadi ruang yang mendorong lahirnya generasi yang mampu berpikir kritis, terbuka terhadap perbedaan pandangan, dan memiliki keberanian untuk menguji setiap gagasan secara akademis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *