KLIKPARIGI.ID – Ketepatan hasil pengukuran di Posyandu menjadi perhatian dalam pendampingan program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Fase II di Kabupaten Parigi Moutong. Pemeriksaan langsung dilakukan untuk memastikan proses penimbangan, pengukuran, pencatatan hingga pembacaan hasil pertumbuhan bayi dan balita berjalan sesuai standar.
Pendampingan tersebut dilaksanakan secara bertahap di Kecamatan Siniu dan Kecamatan Ampibabo pada September 2026. Tim INEY Poltekkes Kemenkes Palu bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong dan jajaran Puskesmas turun ke sejumlah lokasi untuk melihat kondisi pelayanan sekaligus menemukan kendala yang masih terjadi di tingkat Posyandu.
Di Kecamatan Siniu, kegiatan berlangsung pada 8–9 September 2026 dengan lokasi pendampingan di Posyandu Melati, Desa Marantale, serta SMKN 1 Siniu. Tim INEY yang bertugas dalam kegiatan tersebut didampingi Wery Aslinda, S.Si., M.Si., bersama unsur Dinas Kesehatan dan Puskesmas wilayah kerja.
Sementara itu, pendampingan di Kecamatan Ampibabo berlangsung pada 9–10 September 2026. Kegiatan dilakukan di Posyandu Melati Tombi, Desa Tombi, dan Posyandu Sayang Ibu, Desa Paranggi. Tim INEY di wilayah tersebut dipimpin Putu Candriasih, SST., M.Kes., bersama petugas Dinas Kesehatan dan Puskesmas.
Kunjungan lapangan tidak sebatas melihat aktivitas pelayanan Posyandu. Tim melakukan pengecekan terhadap proses penimbangan, pengukuran panjang atau tinggi badan, pemanfaatan alat antropometri, hingga pencatatan hasil pengukuran.
Hasil pengukuran juga dibandingkan dengan data yang sebelumnya telah tercatat. Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui apabila terdapat perbedaan hasil sekaligus memastikan data pertumbuhan yang dimiliki Posyandu dapat menggambarkan kondisi anak secara akurat.
Selain melakukan pemeriksaan teknis, tim berdiskusi langsung dengan para kader. Apabila ditemukan kekeliruan dalam penggunaan alat, proses pengukuran maupun pencatatan, tim memberikan koreksi dan pembinaan agar kesalahan yang sama tidak kembali terjadi.
Akurasi data menjadi bagian penting dalam pemantauan tumbuh kembang karena hasil tersebut menjadi dasar untuk menentukan anak yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Bayi dan balita yang mengalami gangguan pertumbuhan maupun persoalan gizi perlu segera dikenali sehingga intervensi dapat diberikan sesuai kebutuhannya.
Pendampingan di Kecamatan Siniu juga diarahkan pada penanganan anak yang telah teridentifikasi mengalami persoalan gizi. Temuan seperti gizi buruk, gizi kurang maupun stunting menjadi bagian yang perlu mendapatkan tindak lanjut secara konsisten.
Wery Aslinda menekankan pentingnya kesinambungan intervensi terhadap anak yang mengalami masalah gizi. Penanganan tidak cukup dilakukan hanya ketika temuan pertama kali diketahui, tetapi perlu dikawal hingga terdapat perkembangan kondisi yang lebih baik.
Penguatan pemahaman kemudian diberikan kepada Kader Pembangunan Manusia (KPM), kader Posyandu serta petugas Puskesmas. Mereka didorong memiliki kemampuan yang memadai dalam mengenali persoalan pertumbuhan dan memberikan informasi yang tepat kepada keluarga.
Aspek pola asuh juga menjadi perhatian. Kader diharapkan dapat memasukkan edukasi mengenai pola pengasuhan ke dalam komunikasi dengan orang tua sehingga upaya memperbaiki kondisi anak dapat diteruskan di rumah.
Dengan demikian, pelayanan Posyandu tidak berdiri sendiri. Perubahan perilaku keluarga, pemenuhan kebutuhan anak serta penerapan pola asuh yang tepat menjadi bagian yang ikut menentukan keberhasilan perbaikan status gizi dan tumbuh kembang.
Tidak hanya menyasar Posyandu, kegiatan di Kecamatan Siniu juga menyentuh kelompok remaja. Tim INEY memberikan edukasi di SMKN 1 Siniu mengenai pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri.
Edukasi tersebut menjadi bagian dari pendekatan pencegahan masalah gizi sejak usia remaja, khususnya dalam mempersiapkan kondisi kesehatan sebelum memasuki masa kehamilan.
Temuan berbeda muncul dalam pendampingan di Kecamatan Ampibabo. Tim menemukan adanya hasil pengukuran yang membias. Dari sisi teknik, kader pada dasarnya telah melakukan tahapan pengukuran dengan benar, namun kondisi alat yang belum memenuhi standar menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi hasil.
Persoalan lainnya berkaitan dengan pergantian kader kesehatan. Pergantian yang berlangsung secara bergantian dapat menyebabkan perlunya penyegaran kembali mengenai teknik pengukuran, penggunaan alat serta pencatatan hasil pertumbuhan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas kader perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pembinaan dan pelatihan kembali diperlukan agar standar pemantauan pertumbuhan tetap terjaga meskipun terjadi perubahan personel di Posyandu.
Ketua Tim INEY Kecamatan Ampibabo, Putu Candriasih, SST., M.Kes., mengingatkan bahwa proses pemantauan harus menghasilkan informasi yang benar mengenai kondisi anak.
“Pemantauan pertumbuhan bukan hanya soal menimbang dan mengukur, tetapi bagaimana memastikan hasil pengukuran benar sehingga kondisi anak dapat diketahui secara tepat dan ditindaklanjuti. Karena itu, kader perlu memahami cara pengukuran yang benar dan terus memberikan edukasi kepada orang tua mengenai tumbuh kembang anak serta pencegahan stunting,” ujar Putu.
Selain memberikan penguatan mengenai teknik pengukuran, Putu juga menyampaikan edukasi tentang tumbuh kembang balita kepada kader dan masyarakat. Materi yang diberikan mencakup pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD), upaya menjaga kesehatan bayi dan balita serta langkah pencegahan stunting.
Pemahaman mengenai cara membaca hasil pengukuran juga menjadi bagian dari pembinaan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan ketika hasil pengukuran dicatat maupun diinterpretasikan.
Temuan selama pendampingan kemudian dibahas bersama pihak terkait untuk mencari langkah penyelesaian. Salah satu tindak lanjut datang dari Pemerintah Desa Tombi yang menyatakan kesiapannya mendukung pemenuhan kebutuhan alat ukur Posyandu melalui Dana Desa.
Dukungan tersebut menjadi salah satu bentuk respons terhadap kebutuhan di lapangan, terutama untuk memastikan kegiatan pemantauan pertumbuhan menggunakan peralatan yang sesuai sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih akurat.
Program INEY Fase II sendiri memiliki sasaran kelompok prioritas, mulai dari remaja putri, ibu hamil, bayi di bawah dua tahun hingga balita. Pelaksanaannya diarahkan pada penguatan intervensi gizi spesifik secara terpadu dengan pendekatan yang menjangkau keluarga.
Selain memperkuat layanan gizi, program tersebut juga mendorong peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dan kader serta pemanfaatan layanan kesehatan, termasuk layanan gizi dan imunisasi yang tersedia di masyarakat.
Pendampingan di Siniu dan Ampibabo memperlihatkan bahwa penguatan program tidak hanya berkaitan dengan tersedianya pelayanan, tetapi juga kualitas data dan kemampuan petugas di lapangan. Ketepatan pengukuran menjadi titik awal agar anak yang membutuhkan intervensi dapat dikenali dengan benar.
Berbagai temuan selama kunjungan selanjutnya menjadi bahan evaluasi bersama untuk menentukan perbaikan. Mulai dari pembinaan kader, pemenuhan alat ukur, penguatan edukasi keluarga hingga tindak lanjut terhadap anak dengan masalah gizi.
Melalui pola pendampingan yang dilakukan secara langsung dan berulang, INEY Fase II diharapkan mampu memperkuat sistem pemantauan pertumbuhan di tingkat Posyandu. Dengan data yang lebih akurat dan tindak lanjut yang lebih cepat, upaya pencegahan serta penanganan stunting di Kabupaten Parigi Moutong dapat dilakukan secara lebih tepat dan berkelanjutan.














