Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Parigi MoutongPotret

Rakor ATS Sulteng, Parigi Moutong Dorong Pendataan Anak Putus Sekolah

×

Rakor ATS Sulteng, Parigi Moutong Dorong Pendataan Anak Putus Sekolah

Sebarkan artikel ini
Rapat Koordinasi Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) tingkat Provinsi Sulawesi Tengah. FOTO: Istimewa

KLIKPARIGI.ID – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menunjukkan komitmen kuat dalam menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) dengan menghadiri Rapat Koordinasi Penanganan ATS tingkat Provinsi Sulawesi Tengah yang berlangsung di Best Western Plus Coco Palu, Kamis (16/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 15 hingga 17 April 2026, menjadi forum strategis bagi seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah untuk merumuskan langkah nyata dalam memastikan setiap anak memperoleh hak pendidikan yang layak.

Delegasi Kabupaten Parigi Moutong dipimpin langsung oleh Hestiwati Nanga didampingi Sutoyo. Hadir pula perwakilan dari Bappelitbangda Parigi Moutong, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parigi Moutong, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Parigi Moutong, serta Dinas Sosial Parigi Moutong.

Baca Juga:  Gugus Tugas KLA Parigi Moutong Diperkuat untuk Lindungi Hak Anak

Kehadiran lintas sektor tersebut menunjukkan bahwa penanganan ATS tidak hanya menjadi tanggung jawab dunia pendidikan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai perangkat daerah untuk memastikan data, pelayanan, dan intervensi berjalan secara terpadu.

Dalam keterangannya, Hestiwati Nanga menegaskan bahwa persoalan anak tidak sekolah merupakan isu serius yang harus ditangani secara bersama-sama oleh pemerintah, keluarga, dan masyarakat.

“Pendidikan adalah fondasi utama masa depan daerah kita. Kehadiran lintas sektor hari ini adalah bukti bahwa Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong tidak main-main dalam menekan angka Anak Tidak Sekolah. Kita butuh data yang akurat dan empati yang tinggi agar tidak ada lagi anak-anak kita yang tertinggal di belakang hanya karena kendala akses atau ekonomi,” ujar Hestiwati.

Baca Juga:  Momentum HUT ke-17, Kecamatan Siniu Didorong Jadi Wilayah Maju dan Berdaya Saing

Menurutnya, masih banyak faktor yang menyebabkan anak tidak melanjutkan pendidikan, mulai dari keterbatasan ekonomi, akses transportasi, kondisi keluarga, hingga minimnya kesadaran pentingnya pendidikan.

Karena itu, ia menilai pendekatan yang dilakukan tidak cukup hanya melalui pendataan, tetapi juga harus dibarengi dengan pendekatan persuasif kepada keluarga agar anak-anak yang putus sekolah dapat kembali memperoleh kesempatan belajar.

“Sinergi antara pendataan terpadu dan pendekatan persuasif kepada keluarga menjadi kunci utama agar langkah yang kita ambil tepat sasaran dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Rakor tersebut juga menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, yakni Dr. Asia, yang memaparkan pentingnya integrasi data antar-OPD dalam memetakan persoalan ATS secara lebih mendalam.

Baca Juga:  Pengurus Baru PGRI Parigi Moutong Resmi Dikukuhkan, Fokus pada Pemerataan Pendidikan

Dalam paparannya, Dr. Asia menekankan bahwa penanganan anak tidak sekolah harus dimulai dari penguatan peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak.

Selain itu, sinkronisasi data antara instansi terkait dinilai sangat penting agar pemerintah dapat mengetahui secara rinci lokasi, jumlah, dan penyebab anak-anak tidak bersekolah di setiap wilayah.

Melalui rapat koordinasi ini, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong berharap dapat memperkuat strategi dan kolaborasi lintas sektor dalam menekan angka ATS, sehingga seluruh anak di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Langkah tersebut juga diharapkan mampu menciptakan generasi muda Parigi Moutong yang lebih cerdas, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *