Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
KesehatanParigi Moutong

Cegah Stunting Sejak Kehamilan, Hestiwati Tekankan Pentingnya Pemeriksaan Dini

×

Cegah Stunting Sejak Kehamilan, Hestiwati Tekankan Pentingnya Pemeriksaan Dini

Sebarkan artikel ini
Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Parigi Moutong menggelar kegiatan sosialisasi kesehatan. FOTO: Istimewa

KLIKPARIGI.ID – Penguatan kesehatan keluarga membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak tahap pencegahan, pemeriksaan dini, hingga pemantauan kondisi kesehatan secara berkelanjutan. Sejumlah langkah tersebut menjadi perhatian Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Parigi Moutong, terutama dalam menekan risiko stunting, mencegah penularan penyakit, dan membantu memenuhi kebutuhan darah bagi pasien.

Pesan itu disampaikan Ketua TP-PKK Kabupaten Parigi Moutong, Hj. Hestiwati Nanga, saat memberikan sosialisasi kesehatan di Kantor Desa Toboli, Kecamatan Parigi Utara, Kamis (8/10/2026). Kegiatan tersebut diikuti peserta dari Kecamatan Parigi Utara, Kecamatan Siniu, dan Kecamatan Parigi Tengah sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai persoalan kesehatan yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan keluarga.

Hestiwati menegaskan, edukasi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya memahami pentingnya menjaga kesehatan, tetapi juga mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi risiko penyakit. Selain pemeriksaan kesehatan rutin, sosialisasi tersebut turut membahas pencegahan pernikahan dini, penyalahgunaan narkoba, serta berbagai persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian bersama.

“Kesehatan merupakan kebutuhan mendasar yang harus kita jaga bersama. Melalui kegiatan ini, kita memiliki ruang untuk menyampaikan informasi mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan masyarakat agar program kesehatan dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga,” ujarnya.

Salah satu materi yang mendapat perhatian khusus adalah pencegahan dan penanganan stunting melalui pemenuhan kebutuhan kesehatan sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode tersebut dikenal sebagai Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang menjadi fase penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Baca Juga:  Bupati Erwin Tutup FTT 2025, Tekankan Pelestarian Budaya dan Ekonomi Kreatif

Menurut Hestiwati, pencegahan stunting tidak dapat dilakukan hanya setelah anak menunjukkan gangguan pertumbuhan. Upaya tersebut perlu dimulai sejak ibu merencanakan dan menjalani kehamilan, dilanjutkan dengan pemeriksaan rutin, pemberian imunisasi sesuai jadwal, serta pemantauan pertumbuhan anak secara berkala.

“Kalau kita ingin serius mencegah stunting, perhatian terhadap Hari Pertama Kehidupan harus dilakukan dengan baik. Ibu hamil perlu memeriksakan kehamilannya secara teratur, anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal, dan pertumbuhannya terus dipantau sejak lahir,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan Triple Eliminasi bagi ibu hamil, yakni skrining untuk mendeteksi HIV, sifilis, dan hepatitis B. Pemeriksaan tersebut diperlukan agar kemungkinan infeksi dapat diketahui sedini mungkin sehingga tenaga kesehatan bisa memberikan penanganan sesuai kondisi ibu dan mencegah risiko penularan kepada bayi.

Hestiwati menekankan bahwa ibu hamil perlu mendapatkan informasi yang benar mengenai manfaat pemeriksaan tersebut. Deteksi dini, disertai penanganan medis yang tepat, dapat membantu menurunkan risiko penularan dari ibu kepada anak.

“Ibu hamil perlu mendapatkan pemeriksaan Triple Eliminasi sesuai pelayanan kesehatan yang dianjurkan. Apabila ditemukan infeksi, penanganan harus segera dilakukan oleh tenaga kesehatan. Jangan sampai kesempatan untuk mencegah penularan terlewat hanya karena kurangnya informasi atau keterlambatan pemeriksaan,” tegasnya.

Selain kesehatan ibu dan anak, persoalan ketersediaan darah juga menjadi perhatian dalam sosialisasi tersebut. Hestiwati menyampaikan bahwa kebutuhan darah harus didukung oleh partisipasi masyarakat melalui kegiatan donor darah yang terorganisasi.

Baca Juga:  Pemkab Parigi Moutong Gelar Ziarah Nasional di Makam Pahlawan Tombolotutu

Ia mengungkapkan, pendarahan saat persalinan merupakan salah satu persoalan serius yang dapat mengancam keselamatan ibu. Karena itu, ketersediaan darah menjadi bagian penting dalam mendukung kesiapan pelayanan kesehatan, khususnya ketika pasien membutuhkan transfusi dalam kondisi darurat.

Sebagai langkah untuk memperkuat persediaan darah, TP-PKK Kabupaten Parigi Moutong berencana mendorong gerakan donor darah di setiap kecamatan. Pelaksanaannya diharapkan melibatkan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta masyarakat yang memenuhi persyaratan sebagai pendonor.

Hestiwati menyebut kebutuhan darah perlu diantisipasi melalui perencanaan yang terarah. Ia menyampaikan target ketersediaan darah sekitar dua persen dari jumlah penduduk, atau kurang lebih 9.000 kantong darah, yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama.

“Persediaan darah harus kita siapkan melalui gerakan yang terencana. Kami berharap para camat dapat membantu menggerakkan masyarakat agar berpartisipasi dalam donor darah. Ketersediaan darah ini bukan hanya dibutuhkan oleh ibu yang mengalami pendarahan saat persalinan, tetapi juga pasien lain yang memerlukan transfusi, termasuk pasien yang menjalani cuci darah,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa donor darah dapat menjadi kesempatan bagi pendonor untuk memperoleh informasi mengenai kondisi kesehatannya melalui pemeriksaan yang dilakukan sesuai prosedur pelayanan donor darah. Meski demikian, donor darah tidak menggantikan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, sehingga masyarakat tetap perlu memanfaatkan layanan kesehatan secara rutin.

Hestiwati mengingatkan bahwa sejumlah penyakit infeksi tidak selalu menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Oleh karena itu, masyarakat perlu menghindari anggapan bahwa seseorang pasti sehat hanya karena terlihat bugar. Pemeriksaan sesuai indikasi dan anjuran tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi tubuh secara lebih tepat.

Baca Juga:  Peringatan HUT PMI di Parigi Moutong Dimeriahkan Jalan Santai dan Bakti Sosial

“Jangan menilai kondisi kesehatan seseorang hanya dari penampilan fisiknya. Ada penyakit yang tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan dan deteksi dini sangat penting agar penanganan bisa dilakukan sesuai kebutuhan,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hestiwati juga meminta agar informasi mengenai persoalan kesehatan masyarakat, terutama kasus stunting dan tuberkulosis (TBC), dipetakan dengan baik hingga tingkat desa. Menurutnya, data yang akurat akan membantu pemerintah dan pihak terkait mengetahui kondisi masing-masing wilayah serta menentukan bentuk intervensi yang diperlukan.

Pendataan tersebut perlu disertai koordinasi antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kader PKK, dan tenaga kesehatan. Dengan demikian, informasi yang terkumpul dapat digunakan untuk mendukung pemantauan, memperkuat edukasi, serta mengarahkan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Kita tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga harus memastikan pelaksanaannya dipantau. Data kesehatan, termasuk stunting dan TBC, perlu diketahui sampai tingkat desa agar penanganannya lebih terarah. Harapannya, langkah yang kita lakukan bersama dapat membawa perubahan bagi kesehatan keluarga di Parigi Moutong,” tutupnya.

Kegiatan sosialisasi tersebut turut dihadiri Camat Parigi Utara, Camat Parigi Tengah, Camat Siniu, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) setempat. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut diharapkan memperkuat koordinasi dalam menyebarluaskan edukasi kesehatan dan mendorong keterlibatan masyarakat di wilayah masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *