KLIKPARIGI.ID – Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase turun langsung menemui petani terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Rabu (18/2/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia menyerahkan bantuan logistik dan peralatan pemadaman sekaligus mendengarkan keluhan warga yang kehilangan sumber penghidupan akibat kebakaran.
Penyaluran bantuan dilakukan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong dengan dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bantuan yang diberikan berupa tiga unit SCBA, dua unit fleksibel tank lengkap dengan mesin alkon, satu unit motor fire guard, serta 100 paket sembako untuk warga di Desa Toboli, Avolua, dan Sakina Jaya.
Dalam sambutannya, Bupati mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menunda aktivitas pembakaran lahan, mengingat kondisi cuaca yang masih kering.
“Diperkirakan hujan baru turun sekitar bulan Maret. Kalau api sudah besar dan ditambah angin, akan sangat sulit dipadamkan,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada personel gabungan, termasuk TNI dan Polri, yang telah membantu proses pemadaman di lapangan.
“Terima kasih juga kepada Pak Kalak yang sudah menjemput bantuan ke pusat dan berupaya mencari dukungan untuk Parigi Moutong,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana BPBD Parigi Moutong, Rivai, dalam laporannya menyebutkan bahwa sejak Januari hingga awal Februari 2026 telah terjadi 27 kasus karhutla dengan total luasan terdampak sekitar 200 hektare.
“Hampir 75 persen kejadian karhutla di Parigi Moutong terjadi di Kecamatan Parigi Utara, dengan luasan sekitar 147 hektare,” ujar Rivai.
Dari luasan tersebut, sekitar 96,7 hektare merupakan lahan perkebunan berbagai komoditas pertanian. Desa Avolua menjadi wilayah terparah dengan 76,7 hektare lahan terbakar, disusul Desa Toboli sekitar 20 hektare. Kebakaran terbaru tercatat pada 5 Februari 2026 di Desa Sakina Jaya seluas 10 hektare, dengan 5 hektare di antaranya merupakan lahan perkebunan warga.
Rivai juga mengingatkan bahwa berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Parigi Moutong masih berada dalam masa kekeringan.
“Kami akan memasang pengumuman imbauan kepada masyarakat, termasuk agar berhati-hati membuang puntung rokok sembarangan,” katanya.
Selain penanganan darurat, Bupati menyatakan pemerintah daerah telah memerintahkan Dinas Pertanian untuk mendata lahan pertanian terdampak guna disiapkan program revitalisasi.
“Pemerintah siap membantu merevitalisasi kebun masyarakat yang terbakar,” katanya.
Di hadapan Bupati, seorang petani terdampak, Arwan, mengungkapkan kesulitannya setelah kebakaran menghanguskan lahan miliknya.
“Lahan saya sekitar dua hektare, ada kelapa dan cokelat. Itu satu-satunya penghidupan saya. Anak saya tahun depan masuk kuliah. Tolong Pak Bupati, kami ini orang susah,” ungkapnya.
Kepala Desa Avolua, Tamsil, turut mengingatkan potensi bencana lanjutan akibat kerusakan hutan.
“Hutan sudah gundul akibat terbakar. Tidak menutup kemungkinan ke depan akan terjadi banjir,” ujarnya.
Menanggapi persoalan hukum terkait kasus karhutla, Wakil Bupati Parigi Moutong, Abdul Sahid, meminta masyarakat tetap tenang dan mempercayakan penanganannya kepada aparat penegak hukum.
“Kita hadapi persoalan ini dengan tenang. Pemerintah tidak menutup mata, tapi mari biarkan hukum yang berbicara,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam penanganan karhutla sekaligus memastikan pemulihan lahan dan penghidupan masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan.
















