Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 970x250
Parigi Moutong

Banjir Kembali Terjang Moutong dan Bolano Lambunu, 132 KK Terdampak

×

Banjir Kembali Terjang Moutong dan Bolano Lambunu, 132 KK Terdampak

Sebarkan artikel ini
Banjir terjang Kecamatan Moutong dan Bolano Lambunu. FOTO: Istimewa

KLIKPARIGI.ID – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah utara Kabupaten Parigi Moutong dalam beberapa hari terakhir menyebabkan sejumlah desa di Kecamatan Moutong dan Bolano Lambunu kembali dilanda banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parigi Moutong mencatat sedikitnya 132 kepala keluarga terdampak akibat luapan sungai yang merendam permukiman warga dan fasilitas umum.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Parigi Moutong, Rivai, mengatakan tim reaksi cepat bersama aparat desa masih terus melakukan pemantauan, asesmen, serta penanganan di sejumlah lokasi terdampak bencana.

“Selain banjir, hujan dengan intensitas tinggi juga menyebabkan tanah longsor di Dusun VII Desa Petanasugi, Kecamatan Bolano Lambunu. Tim kami masih berada di lapangan untuk melakukan pendataan dan memastikan kondisi masyarakat tetap aman,” ujarnya di Parigi, Selasa (19/5/2026).

Berdasarkan data sementara dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Parigi Moutong, wilayah terdampak tersebar di beberapa desa dengan total 132 kepala keluarga. Rinciannya, sebanyak 66 KK berada di Desa Tuladenggi Pantai Kecamatan Moutong, 8 KK di Desa Sialopa, serta 58 KK di Desa Gunung Sari Kecamatan Bolano Lambunu.

Baca Juga:  Songulara Offroad Adventure Ngata Parigi 2025 Resmi Ditutup

Banjir pertama dilaporkan terjadi di Desa Tuladenggi Pantai pada Senin dini hari sekitar pukul 03.00 WITA. Air merendam permukiman warga di Dusun I dan Dusun II setelah debit sungai meningkat akibat hujan deras yang berlangsung cukup lama.

Sementara itu, banjir di Desa Gunung Sari Kecamatan Bolano Lambunu terjadi pada Selasa sore sekitar pukul 15.10 WITA dan menggenangi Dusun II, III, IV, hingga Dusun VI.

Pada hari yang sama, Desa Sialopa Kecamatan Moutong juga terdampak banjir sekitar pukul 13.00 WITA. Sebanyak delapan kepala keluarga dilaporkan terdampak, masing-masing tersebar di Dusun I dan Dusun II.

Baca Juga:  DPRD Parigi Moutong Bentuk Panitia Kerja (PANJA)

Meski demikian, kondisi di Desa Sialopa mulai berangsur membaik setelah air perlahan surut. Warga setempat mulai membersihkan rumah dan lingkungan sekitar yang sebelumnya sempat tergenang.

Selain rumah warga, banjir turut merendam sejumlah fasilitas umum seperti polindes, masjid, musholla, posyandu, lapangan sepak bola, jalan usaha tani, hingga akses jalan penghubung antarwilayah.

BPBD Parigi Moutong menyebut meluapnya air sungai dipicu tingginya curah hujan serta kondisi tanggul yang mulai mengalami pengikisan sehingga tidak mampu menahan debit air.

“Kondisi tanggul di beberapa titik memang sudah menipis sehingga saat debit sungai naik, air langsung meluap ke permukiman masyarakat,” jelas Rivai.

Untuk kebutuhan penanganan darurat, pemerintah daerah saat ini memprioritaskan distribusi logistik kebencanaan serta penanganan tanggul sungai menggunakan alat berat guna mencegah banjir susulan.

BPBD juga masih melakukan pendataan terhadap kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, balita, lansia, dan penyandang disabilitas yang berada di lokasi terdampak. Selain itu, kerusakan rumah dan lahan pertanian warga masih dalam tahap verifikasi petugas.

Baca Juga:  Pantai Kucing, Pantai Indah & Surga Para Pecinta Snorkeling di Parigi Moutong

“Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa. Namun proses kaji cepat masih terus dilakukan karena ada beberapa titik yang kondisi airnya belum sepenuhnya surut,” ungkapnya.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor, agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan prakiraan cuaca, wilayah Parigi Moutong masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dalam beberapa hari ke depan.

“Kami mengimbau masyarakat tetap siaga dan segera melapor apabila terjadi peningkatan debit air atau tanda-tanda longsor di sekitar permukiman,” pungkas Rivai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *